Selasa, 17 Januari 2017

PENDIDIKAN KEAKSARAAN, SALAH SATU SOLUSI MASA KINI dan MASA DEPAN

Artikel Terkait

Tulisan ini tentang pendidikan keaksaraan. Mungkin agak di luar konteks blog ini. Tapi pendidikan keaksaraan itu sejatinya tidak lepas dari Pendidikan kesetaraan. Kaitannya Pendidikan kesetaraan dan pendidikan keaksaraan akan dibahas pada tulisan selanjutnya. Semoga menjadi pencerahan buat kita semua.
Membaca postingan salah satu pakar di bidang pendidikan keaksaraan di Facebook yang mengutip dari tulisan Alvin Toffler, saya teringat kembali materi yang pernah saya dapatkan di pelatihan calon pelatih. Cuma saya lupa kapan tanggal dan bulannya. Dan kali ini juga saya tidak akan membahas pelatihan tersebut.

Adapun Kutipan dari Alvin Toffler, adalah sebagai berikut, "The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn", yang bila diartikan dalam Bahasa Indonesia
"mereka yang disebut buta huruf (illiterate) di abad ke -21 bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, namun mereka yang tidak bisa belajar (learn), menanggalkan pelajaran sebelumnya (unlearn), dan belajar kembali (re-learn)".

Kaitan judul dan kutipan dari Alvin Toffler barangkali ada hubungannya. Persepsi umum di kalangan masyarakat, Pendidikan Keaksaraan dimaknai dengan buta huruf; tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Padahal konteks pendidikan keaksaraan itu sangatlah luas bila merujuk kepada kutipan dari Alvin Toffler.

Saat ini saya sendiri merasakan bahwa pendidikan ini selalu terus berkembang. Selalu muncul ide maupun inovasi baru terkait pengetahuan dan keterampilan. Inovasi pendidikan ini menuntut kita untuk meng-upgrade pengetahuan dan keterampilan. Kita akan tergerus dan "mati" secara perlahan bila mengabaikan ini.

Barangkali fenomena UNPK berbasis komputer adalah salah satu contoh konkret. Peserta didik paket C Belum semuanya melek TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Sebagian besar melek TIK hanya sebatas medsos. Mereka masih buta TIK, belum bisa mengirim email dan belum bisa memanfaatkan internet dengan optimal serta masih minim dalam penggunaan Microsoft Office. Padahal kompetensi ini sangat diperlukan dalam dunia kerja.

Bagaimana dengan tenaga pendidiknya? Apakah sudah tidak buta TIK? Belum ada data yang konkret mengenai ini. Namun sebagai catatan pembanding, pendataan Tutor online saat ini baru sekitar seribu orang yang terdata di aplikasi android. Dan satu Tutor hanya bisa menginput satu kali dan berbasis akun Gmail. Thus, secara kasat mata, jumlah PKBM yang terdata di seluruh Indonesia sekitar 8 ribuan lebih. Alangkah tidak masuk akal perbandingan jumlah satuan pendidikan dan tenaga pendidiknya. Mungkin ini bisa dijadikan. Indikator sementara bahwa kompetensi TIK para tenaga pendidik di PKBM masih belum menggembirakan.

Konteks contoh di atas, barangkali bisa disebut keaksaraan TIK. Sasaran keaksaraan TIK ini, menurut saya sangat bervariasi. Barangkali lebih panjang tentang usianya bila dibandingkan dengan batasan Pendidikan keaksaraan saat ini.

Kesimpulannya, pendidikan keaksaraan tidak akan pernah punah. Pendidikan keaksaraan akan selalu ada. Itulah yang bisa saya share kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.
Wallahu a'lam bish-shawabi

Tidak ada komentar: